Senin, 27 April 2015

Sambungan semangat dari kakek


GURUKU YANG CANTIK


Bel belum berbunyi. Aku duduk di teras kelas. Tidak ada teman yang menghampiri. Nampaknya aneh, biasanya teman-teman sekelasku bermain di halaman tapi kali ini tidak ada satupun yang berkeliaran. Aku hanya melihat adik-adik kelasku di sana sini membawa bungkusan jajan,  mereka adalah anak-anak kelas satu dan dua. Ada juga yang bermain sodoran (Go back to door), mereka anak-anak kelas tiga dan empat. Di ujung halaman dekat masjid ada anak-anak yang bermain bola, mereka kelas lima.
“Mana yang kelas enam ya..!!” tanpa sadar aku bicara sendiri sambil memutar-mutarkan mata berusaha menemukan teman-temanku. Biasanya jam segini mereka yang cowok ikut bermain bola dihalaman.
“Mas Bro..!!!!”
“Oei…!!!” aku tersentak kaget, tiba-tiba Faruq menyapa dengan nada tinggi di dekat kupingku. Kelihatannya memang disengaja, tapi tidak apa-apa, karena aku juga sering bersikap seperti itu. “Ah bro.. ngagetin aja,, mana yang lain..??”
“Mereka di kelas.” Perlahan temanku mendorong tubuhku, “geser sedikit dong bro,,!!” Aku sedikit geser ke kiri memberi Faruq tempat untuk duduk, “ahhh.. akhirnya duduk juga”.
“Pagi-pagi sudah ngemut permen, dapat dari siapa..?” aku mulai meledek.
“Hmm… kok tau kalau aku ngemut permen..??” jawab Faruq sambil memutar-mutar permen di mulutnya.
“Tadi pas kamu bilang ‘ahhh..’ baunya sampe ke hidungku” ejekku sambil menutup hdung.
“Wah.. ga usah nutup hidug gitu kalee..” nampaknya faruq mulai tersinggung.
“Hehehe… gausah marah gitu kalee..” sambil kusenggol pundak Faruq dengan pundakku. “kamu kok tenang-tenang saja. Teman-teman pada ngerjain tugas tu..”
“Wah,, tugas apa..??” jawabku terkejut.
“Tugas dari bu Erni. Kemarin kan ada PR..”
“Wah,, gila..”. ku tamparkan tanganku ke kening, “aku lupa..!! kamu sudah selesai ??”
“Sudah, tu anak-anak pada nyontek punyaku. Sebagai imbalan ni, aku di kasih permen.” Tiba-tiba ia membuka mulut dan “Hahhh!!!!”, Seng.. bau permen menyengat hidungku.
Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas ke kelas. Tidak ku hiraukan bau permen yang dipamerkan Faruk. Aku berlari menaiki tangga dan segera masuk kelas.
“Hai semua.. Hah..hah”, sapaku sambil ngos-ngosan.
Tidak ada jawaban dari sapaanku. Teman-temanku nampak repot semua. Terlihat mereka bergerombol mengitari bangku dengan tubuh sedikit bergerak karena pengaruh gerakan tangan yang tergesa-gesa menulis contekan. Nampaknya tidak ada tempat untukku. Aku alihkan pandangan ke bangku pojok paling belakang. Terlihat Rika sedang menyontek PR sendirian. Akhirnya, aku ambil posisi di samping Rika. Terdengar sebagian temanku berbisik-bisik sambil melirik kearah kami. Nampaknya mereka sedang membicarakan tentang aku yang duduk di samping Rika. Rika adalah salah satu temanku yang dikucilkan oleh teman-teman yang lain. Dia dikucilkan karena fisiknya yang cacat. Tangan kirinya tidak bisa lurus. Karena dikucilkan, ia sering menyendiri. Entah menyontek punya siapa. Biasanya Rika selalu mengerjakan PR sendiri, tapi enthlah kali ini aneh, tiba-tiba ia juga ikut nyontek.
Tak ku hiraukan kasak-kusuk teman-teman yang menggosip tentang aku dan Rika. Aku membuka tas. Kuambil buku pelajaran IPA. Aku masih ingat, buku tugas matematika ku kemarin berada di dalam buku paket IPA. Aku sibuk mencarinya. Akhirnya kutemukan juga buku itu. Ketika aku mengambilnya, terlihat ada gambar rumah reyot di halaman tempat buku tugasku terselip. “Degg” sejenak aku diam. Gambar rumah yang mirip dengan rumah kakek Seno. Aku teringat janji yang ku ucapkan tadi. Aku teringat kata-kata kakek. “ssst.. huufff..” aku menghela nafas.
Bingung, sedih, takut, berkumpul menjadi satu. Aku bingung antara menyontek atau menepati janji. Aku sedih karena kalau aku tidak mengerjakan PR, aku tidak akan mendapatkan nilai. Sedangkan aku takut kalau aku tidak mengerjakan tugas nanti dimarahi bu Erni.
“ingat le…nialai jelek yang kamu dapatkan dari kerjaan sendiri itu lebih membanggakan daripada nilai bagus tapi hasil krjaan orang lain.” suara kakek terdengar lagi di telingaku.
Perlahan aku meninggalkan bangku Rika menuju bangkuku. Rika nampaknya memperhatikanku. Aku diam saja.
“teng-teng-teng..!!” bel berbunyi. Aku berusaha menenangkan diri. Ku buka buku tugas. Aku membaca soal-soal PR itu. Kepalaku bergeleng-geleng. Tidak ada satupun soal yang ku pahami. So’al matematika. So’al yang jawabannya tidak bisa didapatkan pada buku paket. Di buku paket hanya ada rumus-rumus penyelesaiannya. Huft, aku pasti tidak bisa mengerjakannya.
Teman-temanku perlahan menata diri pada posisi masing-masing. Nampak wajahnya ceria tanpa beban, karena mereka telah menyelesaikan tugasnya. Faruk perlahan duduk di sampingku. Sejenak ia melihati aku.
“Ada apa bro, kusut gitu..?” faruk menanyai aku.
“Gak ada apa-apa.” Jawabku dingin.
Faruk diam begitu saja, repot dengan mainan yang ada di tangannya. Nampaknya mainan baru. Mungkin ia beli dari pak Jupiter yang biasa jualan di depan sekolah.
Pikiranku melayang kemana-mana, tiba-tiba aku memikirkan apa saja yang kulihat. Mulai dari Faruk dan mainannya, Rika yang sibuk membaca, sampai kaki salah seorang temanku yang digeleng-gelengkan di atas panjatan bangku. Entah, tiba-tiba aku bosan memikirkan tugas yang belum ku kerjakan. Yang jelas tidak mungkin aku menyontek lagi, dan tidak mungkin pula aku bisa mengerjakan tugas dalam waktu sesingkat ini. Bell terlanjur sudah berbunyi.
Hatiku cemas, badanku lemas. Apa yang akan terjadi ? tentunya aku akan dimarahi bu Erni, dan aku tidak akan mendapatkan nilai. Aku akan malu dan mendapatkan nilai yang buruk. “huft” ku letakkan kepalaku diatas tas dengan kedua tanganku mengganjalnya.
“tok,tok,tok,tok.” Terdengar di telingaku teriakan sepatu. Suara yang khas, suara sepatu hak tinggi ibu guru. Temanku tenang sejenak kemudian diantara mereka ada yang berbisik “eh, guru baru-guru baru.”
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabara katuh…” terdegar suara salam lembut nan indah menggema memenuhi ruang kelas kami. Suara yang berbeda dari biasanya. hatiku menerka-nerka. Bukan, ini bukan suara bu Erni. Suara bu Erni biasanya terdengar tegas, tidak lembut seperti ini.
“Wa’alaikum salam warahmatulahi wabara katuh..” kami menjawab salam itu bersama-sama. Aku menjawab salam sembari membangunkan kepalaku melihat pemilik suara lembut trsebut.
Wooooww”, teriak hatiku. Aku terkejut sampai tidak terasa mulutku terbuka, mlongo, Mataku terbelalak, dan badanku sedikit gemetaran. “Luar biasa” sambil bergeleng tidak sengaja aku mengucap kata-kata begitu saja.
“Apanya yang luar biasa” Faruk menenyaiku.
“Cantik bener..” tak sengaja lagi kata-kata itu keluar begitu saja. Semua teman menertawakanku. Tanpa terkecuali ibu guru itu.
Suara tawa yang begitu keras membangunkan aku dari sihir pesona kecantikan ibu guru. Aku melihat ke depan, kanan, kiri dan belakang, semua teman melihatku sambil tertawa. Seperti orang dungu aku tersenyum begitu saja. Seper sekian detik mataku melirik kearah ibu guru nampaknya beliau juga sedang tertawa sambil melihatku. Aduuh,, betapa malunya diriku.
“Siapa namanya ?” suara lembut menenangkan gemuruh tawa satu kelas. “hei,, siapa namamu ?”
Sejenak aku diam. Aku tahu ibu guru itu bertanya padaku. Kepalaku merunduk,  tidak berani memandangnya. Aku ingin menjawabnya tetapi aku masih gugup. Aku tarik nafas, kecil, perlahan.
“heh ditanya ibu guru itu lho..” kata Faruk sabil menjorokkan pundakku.
“tok, tok, tok,” suara sepatu berjalan lambat terdengar makin keras, pertanda bu Guru itu mendekat. Membuat aku semakin malu, deg-degan. “namanya siapa ?”
“em,, anu bu..” begitu groginya sampai aku lupa siapa namaku. “anu.. bu..”
“namanya Anu bu..!!!!” teriak Toni.
“Ha.ha.ha.ha…!!”semua tertawa.
“tenang-tenang,,  anak-anak…” semua terdengar tenang dan nampaknya masih memperhatikan aku. “Ayo, jawab dulu, siapa nama kamu. ?”
Aku sudah terlanjur malu. Semuanya terlanjur menertawakan aku. Perlahan kukumpulkan rasa percaya diriku. Ku usap keringat dingin di mukaku.  Aku ambil nafas pelan sedikit dalam, kemudian mengangkat kapala sambil menghembuskannya pelan. Aku tatap wajah cantik itu sopan. Dengan sedikit malu aku berkata “namaku Raihan bu…”
Ibu guru itu tersenyum. “Nah, gitu dong di jawab. Ditanya dari tadi kok gak dijawab-jawab.” Ibu guru itu kembali ke kedepan, mengambil posisi seperti semula. “baik anak-anak, Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Indah Purnamasari. Kalian bisa memanggil saya bu Indah. Saya tinggal di Dusun Ngrawan Desa Tunggangri, tepatnya gerdu selatan Bok Duwur itu ke timur, utara jalan. Mulai hari ini, saya yang akan mengajar kalian matematika.”
“Bu Erni kemana bu ?” Tanya Faruq,
“Bu Erni, ngajar di kelas Lima. Baik sekarang ganti saya ya yang kenalan dengan anak-anak semua. Atau ada yang perlu ditanyakan tentang saya ?”
“Sudah menikah apa belum Bu,,” teriak Toni sedikit kurang sopan.
“Hm… Alhamdulillah masih akan”
“hu.. kasian, Ahsan akan ditinggal menikah”, teriak Toni mengejekku.
“Hahahaha…” kelasku kembali bergemuruh tertawa.
“kamu siapa namanya ?” Tanya bu Indah pada Toni.
“Saya Toni Bu..” Jawab Toni sambil merunduk.
“Jangan suka mengejek taman, ya…!!!”
“Iya bu…”. Jawab Toni dengan pipi kemerahan.
Bu Indah. Memang nama yang indah, sikapnya lembut indah, bahkan suara sepatunya juga indah. Belum lagi kalau melihat beliau senyum, wah rasanya mau memperhatikan terus.
Setelah memperkenalkan diri bu Indah juga berkenalan dengan kami. Semua ditanya nama dan alamat rumahnya. Aku pun juga kembali ditanya. Tadi aku masih memperkenalkan namaku, sedangkan alamat rumahku bu Indah masih belum tahu. Ketika menanyai aku, bu Indah nampaknya sengaja mengajukan banyak pertanyaan, mungkin ngetes apakah aku masih grogi atau sudah biasa. Ternyata aku sudah biasa, karena bu Indah kurasakan juga biasa dengan aku.
“Kata Bu Erni kemarin kelas ini ada PR,  PRnya yang mana ?”
“Degg…!!!”
To be continued…

SEMANGAT DARI KAKEK


Pagi yang indah. Seindah burung-burung berkicau menambah kesempurnaan alam yang hijau. Seindah Bajing-bajing yang melompat dari pohon kelapa satu dengan yang lain. seindah kupu-kupu yang berterbangan dari bunga satu ke bunga lain. seindah senyuman para petani ketika melihat tanamannya menghijau subur. Itulah alam desaku yang permai, damai, sejuk tanpa kebisingang hiruk.
Setiap pagi aku menikmati keindahan alamku. Aku berjalan di punggung jalan berdasarkan batu ditutup kerikil dan diselimuti pasir halus. “Makadam orang-orang sering menyebut model jalan ini. Aku berjalan dengan penuh kenikmatan menuju sekolah yang tidak jauh dari rumahku. Biasanya ada satu atau dua teman yang menemani, tapi entahlah mereka belum juga muncul sedari tadi.
Perjalananku sampai di gang. Aku berhenti berusaha bersabar menunggu teman-temanku sebelum belok ke gang. Mereka tetap tidak muncul-muncul juga. “jam berapa ini ya..??” hatiku bertanya-tanya. Aku tidak punya jam tangan. Aku mencoba mengintip-intip jam dinding yang berada di dalam rumah dekat gang itu, namun tidak kutemukan.
Ini bukan masalah kesetiakawanan, akan tetapi ini masalah keberanian. Sering aku mendengar cerita-cerita aneh tentang gang ini. Ada orang yang pernah kalap (nyasar ke alam lain) ketika berjalan di gang ini sendirian. Ada juga yang menceritakan kalau gang ini banyak makhluk dedemitnya semisal pocong, kuntilanak, gendruwo dan sebagainya. Entah cerita tersebut benar adanya atau tidak. Dulu sebelum aku mendengar cerita itu aku merasa biasa aja lewat jalan ini dan juga tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi kini rasa takut selalu menyelimutiku ketika melangkahkan kaki di gang.
Tubuhku mulai merinding mengingat cerita orang-orang. akan tetapi aku harus tetap lanjut. Kalau aku terlambat, aku akan dihukum, dan aku pasti malu dilihat teman-temanku terutama teman cewek. sebelum melangkahkan kaki ke gang, aku membangun keyakinan bahwa tidak akan terjadi apa-apa, sebagaimana dulu aku sering berjalan di gang ini sendiri.
Bismillahirrahmanirrahim”. Aku mulai melangkah lebih cepat. Aku tidak melihat kanan kiri. Keindahan alam kulupakan, Kicauan burung ku abaikandan, dan bajing-bajing yang melompat tidak kuperhatikan. aku hanya melihat ujung gang. Aku ingin cepat sampai di sana. Tiba-tiba :
 “Mau sekolah le..??”
“Deg”,, Ku hentikan langkahku. entah mengapa, rasanya aku ingin lari, tapi  aku juga penasaran. Ku cari dari mana sumber suara itu. Ketika tadi belok ke gang, jelas tidak ada seorangpun yang sedang berjalan kecuali aku sendiri. Jantungku semakin berdetak kencang. Keringat dingin keluar. Sementara itu mataku masih menelusur menerobos sela-sela pagar tanaman mencari-cari sumber suara yang terdengar tua.
“Uhhuk…uhhuk..”
“debb-debb, debb-debb..” jantungku berdetak lebih kencang lagi seolah mengajak lari dari tempatku berdiri. Namun aku masih kuat. Rasa penasaranku makin bertambah. Telingaku menangkap sumber suara berada di balik pohon randu yang besar. Ternyata benar.  sosok tua, bersahaja, membungkuk dengan tongkat di tangan, memandangku di samping pohon itu.
“hmmm.. kenapa bingung le..” terlihat wajah kakek tua tersenyum dengan kumis putihnya melebar ke kanan dan ke kiri. Ku perhatikan juga kakinya ternyata ngambah. Menurut film kalau ngambah berarti bukan hantu.
“Huffsss..” aku mengeluarkan nafas berusaha menenangkan jantungku. “ternyata kakek...!”
Ternyata suara yang membuat aku gemetaran adalah suara kakek Seno. Ia merupakan satu-satunya orang yang memiliki rumah di tengah gang ini. Ia sendirian, tapi anehnya ia tidak pernah takut tinggal di gang yang sering disebut angker ini.
“maaf kalau tadi membuat kaget..” jawab kakek sambil berjalan menuju tempatku berdiri.
 “Perasaan, tadi tidak ada orang di sini dan kakek juga tidak ada di samping pohon itu..?”
“hmm tadi, pas kakek memanggil kamu yang pertama, kakek berada di sebelah selatan pohon itu. nah,, pas kamu tolah-toleh, kakek ada di balik pohon itu. hmm..” kakek itu tersenyum seolah meledekku.
“ou.. jadi kakek sengaja ngerjain aku biar takut nih..!!” jawabku dengan memandang kakek itu tajam.
“tidak, bukan maksudku ngerjain kamu.. buat apa coba..” ia balik memandangku serius.
“terus kakek kenapa setelah memanggil sembunyi di balik pohon ??” aku bicara sambil memanyunkan bibir. Kesal.
“Hmm.. jangan cemberut gitu dong,,” kakek berusaha memegang pundakku. “tadi kakek kebelet buang air kecil, dari pada kakek nunggu kamu tolah-toleh terus ngompol, gimana hayo !!”
“hehehe..” aku tertawa tertahan sambil menutupi gigiku. “kakek buang air kok di situ tidak di kamar mandi ?” tanyaku sedikit meledek.
“disini tidak ada kamar mandi. Wong buat nunggu kamu tolah-toleh aja tidak kuat apa lagi, pergi ke kamar mandi” kakek, mamandangku dengan penuh senyuman. “aku itu sudah tua le,, tidak seperti kamu yang masih bisa menunda-nunda buang  air”
“hm.. iya kek..” aku mengangguk sambil menahan tawa menjaga sopan. Rasa takutku tiba-tiba hilang ditelan tawa karena kelucuan kakek.
“Berangkat  sekolah ya ?”. kakek mengulangi pertanyaannya sambil menuntunku melanjutkan perjalanan.
“iya kek.” Aku juga berjalan disamping kakek tua itu. “kakek kok ada di sini ? Setahuku kakek  biasanya berada dirumah pak Muji anak kakek itu.”
“Iya.. kemarin-kemarin kakek lagi sakit, daripada tidak ada yang urus, Muji mengajakku tinggal dirumahnya. Tapi sekarang kakek sudah sehat lagi jadi kakek kembali kerumah”.
“kenapa kakek tidak tinggal terus sama pak Muji aja ??” perjalanan kami terhenti didepan rumah tua. Rumah milik kakek. Sebenarnya aku ingin bertanya kepada kakek tentang kebenaran cerita orang-orang tentang gang ini akan tetapi belum ada kesempatan yang pas.
“hm.. menurut kakek enak tinggal dirumah sendiri, Meskipun tidak ada yang menemani. Rumah ini penuh sejarah le,, penuh kenangan. Rumah ini dulu dibangun dengan jerih payah sendiri. Maka dari itu, meskipun sudah reyot kakek tetep krasan di rumah ini.”
“o,, gitu to kek.” Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Jadi kalau hasil jerih payah sendiri itu, selalu terkenang ya..?”
“bukan hanya terkenang le.. tapi ada rasa bangga juga.”. Kakek memegang pundakku lagi sambil memandang serius. “kalau di sekolah, kamu seharusnya juga begitu le.”
Sejenak  ku kerutkan dahi brusaha memahami kata-kata kakek, “di sekolah, maksunya apa kek,,??”
“maksudnya, kalau disekolah ada tugas apapun, kamu harus mengerjakan sendiri. nialai jelek yang kamu dapatkan dari kerjaan sendiri itu lebih mmbanggakan daripada nilai bagus tapi hasil krjaan orang lain.” Kakek menepuk-nepuk punggungku.
Sejenak aku menundukkan kepala. Mendengar nasihat kakek, aku merasa malu. Setiap hari aku selalu mencontek kerjaan temanku. Nilai ulanganku selalu baik, tidak pernah kurang  dari 80. Akan tetapi, aku tidak pernah merasa bangga. aku hanya memerasakan kesenangan sesaat ketika melihat nilai contekanku yang bagus.
Aku kagum dengan kakek itu. ia tetap betah tinggal di rumah yang sudah reyot. Rumah yang mnurutku tidak patut lagi ditempati. Rumah yang bebrapa gentingnya melorot, dindingnya gedhek  banyak yang bolong,  halamannya penuh dngan daun-daun berjatuhan, kalau malam tanpa listrik, trlihat gelap, suram. Orang-orang mengatakan rumah itu angker dan sebagainya. Namun, rumah itu penuh kenangan bagi kakek. Dalam kenangan itu ada sesuatu yang dibanggakan. Ada sesuatu yang membahagiakan.
Kakek itu telah berjalan menuju pintu rumahnya. Aku melanjutkan perjalananku yang masih sparo lagi sampai. Aku tidak lagi ketakutan. Hanya saja entah mngapa kata-kata terakhir kakek selalu terdengar di telingaku. Tatapan mata kakek yang penuh semangat selalu terlihat dalam bayanganku. Tepukan tangan kakek di punggungku masih saja terasa getarannya sampai jiwaku. Aku kembali memikirkan apa yang telah ku kerjakan selama ini. Setiap hari aku berjelan menuju sekolah, pamit dengan orang tua, dikasih uang saku, akan tetapi di sekolah aku tidak pernah serius belajar. Aku selalu mengabaikan penjelasan guru, dan ketika ulangan aku mencontek jawaban teman. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin bahagia seperti kakek. Aku ingin merasakan kebahagiaan atas jerih payahku sendiri bukan hasil contekan orang lain. Aku ingin kebanggaan dari usaha yang aku laukan.
Sejenak aku berhenti mlangkah. Aku menengok kearah rumah kakek. Dengan sepenuh jiwa aku menggumam, “kek,, mulai sekarang aku brjanji, aku akan selalu mengerjakan tugas-tugas sekolahku sndiri.” Aku ingin mempunyai kenangan. Aku ingin mempunyai sesuatu yang bisa ku banggakan. Aku ingin merasa bahagia seperti yang kakek rasakan.

To be continued… (Guruku yang Cantik)

*****



Oleh: Hay_Hasan

Maaf Tulisanku Jelek


“Buku siapa ini… !!!!.” Senyap. Sejenak suara yang sedikit bergemuruh mereda. “Ada apa  ?” Isyarat penasaran yang muncul dari mimik wajah seluruh siswa siswi kelas 4 MI Singa Laksana Tulungagung. Semuanya tegang. Kesalahan apa yang terjadi ? Buku siapa itu ? Mengapa suara guru bahasa inggris itu menghentak ? Apakah hasil tes pada buku itu salah semua ? Atau ada sesuatu lain pada buku itu hingga membuat guru yang cukup ditakuti itu kecewa? Tanya hatiku yang mulai merudung penasaran, diiringi detak jantung yang makin meningkat. Rasa takut yang tiba-tiba mengefek pada diriku menghembuskan hawa dingin keluar bersama keringat dari tubuhku membuat badanku merinding, sampai-sampai lidahkupun terasa dingin.
Suasana masih belum pecah, Ibu guru yang mengajar Bahasa Inggris dikelasku itu masih mengangkat tangan kanannya sambil menunjukkan buku yang dipertanyakannya. Tangan kirinya diatas bangku, posisi duduk, badan yang tegap, dan raut wajah muram pancaran kekecewaan. Seluruh siswa masih terbengong dengan segala gejolak ketakutan dan kecemasannya. Lima detik, enam detik, tujuh detik,  masih belum ada yang menjawab pertanyaan itu. “Ini buku siapa.!!!” Pertanyaan itu diucapkan lagi dengan nada yang lebih tegas. Belum ada yang mengaku. Namun para siswa dikelasku mulai sedikit ribut. Kami saling bertanya pada teman sebangku kami. “Bukumu ya ?”, “Bukumu ya ?”, “Gak tahu !” “Aku juga gak tahu”, “kayanya bukumu deh ?”, “Ah bukan !”, suara sedikit berbisik-bisik mengumpul bergemuruh seolah mengbaikan guru yang di depan.
“Brakkk..!!! Jangan ramai..!!!” Seketika suara bisik-bisik itu jadi hening. Tangan kiri guru kami yang diatas bangku itu memukul bangku keras-keras. Kami kembali senyap ketakutan. Salah satu dari temanku yang paling suka jahil memberanikan diri untuk bertanya, “Maaf Bu, kesalahan dari buku itu apa ?.”
Menerima pertanyaan itu, dengan mata yang tetap tajam memandang murid-muridnya beliau berdiri dari kursinya, kemudian berjalan sampai depan meja, “Lihat semuanya lihat tulisan ini,,!!! Dari dulu kan sudah ibu ajarin menulis yang baik. Dari kelas satu, dua sampai kelas tiga. Selama tiga tahun kalian sudah ibu ajarin bagaimana nulis yang bagus,,!! kalau nulis huruf G kecil, P kecil, dan J kecil itu agak menggantung, biar bagus..!! Hurufnya kalau nulis agak besar, rapi dan tegak biar enak dibaca.. !!!.”Suara guruku, begitu keras, tapi kami masih terbengong-bengong karena kami tidak melihat apa-apa pada buku itu. Jangankan rangkaian tulisan yang jelek, satu hurufpun tidak kami temukan pada halaman buku yang dibuka dan diangkat tinggi-tinggi dari tadi. Hanya garis-garis horizontal yang rapi yang terlihat.
“Maaf Bu, tulisannya yang mana ?” Tanya temenku yang lain.
Mendengar pertanyaan itu kelihatannya guruku mulai berfikir, mencoba menurunkan tangannya dan melihat halaman yang dibukanya. Semua masih diam, guruku pun juga masih diam, ku lihat-lihat wajah beliau agaknya  kecewa dengan dirinya sendiri yang salah membuka halaman. Dengan sedikit jengkel beliau membolak balikkan halaman buku mencari-cari halaman yang tepat ada tulisan yang dimaksudnya. Melihat hal itu entah mengapa aku tidak kuat menahan senyumku. Kulihat beberapa temanku juga begitu. Namun kami tetap berusaha memasang wajah yang takut dan cemas agar guru kami tidak tambah marah. Setelah menemukan tulisan yang di maksud, “Ini tulisannya,,!!!”. Masih dengan nada yang tegas beliau memperlihatkan tulisan itu.
Melihat tulisan itu aku kembali meragu, cemas dan penuh prasangka. Sepertinya itu tulisanku. Aku terdiam sejenak. Tak lama setelah membuka tulisan itu guruku membalikkan buku itu dan memperlihatkan covernya. Taksalah lagi  itu memang benar-benar  bukuku. Dengan penuh rasa malu aku melangkah kedepan dan berdiri disamping guruku sembari merundukkan kepala aku mengucapkan, ”Maaf Bu, itu bukuku, maafbu tulisanku jelek, padahal saya sudah berusaha menulis sebaik-baiknya.”





Oleh:
J

Alumni MI P.H. Tunggangri.

Sabtu, 24 Maret 2012


TULISAN YANG BERKESAN

“Buku siapa ini… !!!!.” Senyap. Sejenak suara yang sedikit bergemuruh mereda. “Ada apa  ?” Isyarat penasaran yang muncul dari mimik wajah seluruh siswa siswi kelas 4 SD 5 tulungagung. Semuanya tegang. Kesalahan apa yang terjadi ? Buku siapa itu ? Mengapa suara guru bahasa inggris itu menghentak ? Apakah hasil tes pada buku itu salah semua ? Atau ada sesuatu yang lain pada buku itu yang membuat guru yang cukup ditakuti itu kecewa? Tanya hatiku yang mulai merudung penasaran, diiiringi detak jantung yang makin meningkat. Rasa takut yang tiba-tiba mengefek pada diriku menghembuskan hawa dingin keluar bersama keringat dari tubuhku membuat badanku merinding, sampai-sampai lidahkupun terasa dingin.
Suasana masih belum pecah, Ibu guru yang mengajar Bahasa Inggris dikelasku itu masih mengangkat tangan kanannya sambil menunjukkan buku yang dipertanyakannya. Tangan kirinya diatas bangku, posisi duduk, badan yang tegap, dan raut wajah muram pancaran kekecewaan. Seluruh siswa masih terbengong dengan segala gejolak ketakutan dan kecemasannya. Lima detik, enam detik, tujuh detik,  masih belum ada yang menjawab pertanyaan itu. “Ini buku siapa.!!!” Pertanyaan itu diucapkan lagi dengan nada yang lebih tegas. Belum ada yang mengaku. Namun para siswa dikelasku mulai sedikit ribut. Kami saling bertanya pada teman sebangku kami. “Bukumu ya ?”, “Bukumu ya ?”, “Gak tahu !” “Aku juga gak tahu”, “kayanya bukumu deh ?”, “Ah bukan !”, suara sedikit berbisik-bisik mengumpul bergemuruh seolah mengbaikan guru yang di depan.
“Brakkk..!!! Jangan ramai..!!!” Seketika suara bisik-bisik itu jadi hening. Tangan kiri guru kami yang diatas bangku itu memukul bangku keras-keras. Sehingga kami kembali senyap ketakutan. Salah satu dari temanku yang paling suka jahil memberanikan diri untuk bertanya, “Maaf Bu, kesalahan dari buku itu apa ?.”
Menerima pertanyaan itu, dengan mata yang tetap tajam memandang murid-muridnya beliau berdiri dari kursinya, kemudian berjalan sampai depan meja, “Lihat semuanya lihat tulisan ini,,!!! Dari dulu kan sudah ibu ajarin menulis yang baik. Dari kelas satu, dua sampai kelas tiga. Selama tiga tahun kalian sudah ibu ajarin bagaimana nulis yang bagus,,!! kalau nulis huruf G kecil, P kecil, dan J kecil itu agak menggantung, biar bagus..!! Hurufnya kalau nulis agak besar, rapi dan tegak biar enak dibaca.. !!!.”Suara guruku, begitu keras, tapi kami masih terbengong-bengong karena kami tidak melihat apa-apa pada buku itu. Jangankan rangkaian tulisan yang jelek, satu hurufpun tidak kami temukan pada halaman buku yang dibuka dan diangkat tinggi-tinggi dari tadi. Hanya garis-garis horizontal yang rapi yang terlihat.
“Maaf Bu, tulisannya yang mana ?” Tanya temenku yang lain.
Mendengar pertanyaan itu kelihatannya guruku mulai berfikir, mencoba menurunkan tangannya dan melihat halaman yang dibukanya. Semua masih diam, guruku pun juga masih diam, ku lihat-lihat wajah beliau agaknya  kecewa dengan dirinya sendiri yang salah membuka halaman. Dengan sedikit jengkel beliau membolak balikkan halaman buku mencari-cari halaman yang tepat ada tulisan yang dimaksudnya. Melihat hal itu entah mengapa aku tidak kuat menahan senyumku. Kulihat beberapa temanku juga begitu. Namun kami tetap berusaha memasang wajah yang takut dan cemas agar gurukami tidak tambah marah. Setelah menemukan tulisan yang di maksud, “Ini tulisannya,,!!!”. Masih dengan nada yang tegas beliau memperlihatkan tulisan itu.
Melihat tulisan itu aku kembali meragu, cemas dan penuh prasangka. Sepertinya itu tulisanku. Aku terdiam sejenak. Tak lama setelah membuka tulisan itu guruku membalikkan buku itu dan memperlihatkan covernya. Taksalah lagi  itu memang benar-benar  bukuku. Dengan penuh rasa malu aku melangkah kedepan dan berdiri disamping guruku dengan merundukkan kepala aku mengucapkan, ”Maaf Bu, itu bukuku, maafbu tulisanku jelek, padahal saya sudah berusaha menulis sebaik-baiknya.”

Cinta Kasih


ARTI CINTA KASIH

Suasana ramai bulan agustus, tak ceria terasa dihati sahabatku. Aku memandangnya, dimatanya bergejolak airmata. Hatiku bertanya, “Ada apa dengannya ?.” tidak lama aku mengambil waktu, aku dekati dia dan aku bertanya. “Hai.. Kenapa mata kamu pendul..?”. Seketika sahabatku semakin deras meneteskan air matanya. Sedikit ku merasa bersalah, tapi ku ingin tahu ada apa dengannya. Kulihat sulit baginya untuk mengungkapkan kesedihannya. Sampai aku dikasih tahu oleh sahabatku yang lain,sambil berbisik
 “.. Seseorang yang berarti dalam hidupnya telah tiada.”.....
 “Maksudnya siapa ?”....
“Muhsin”.....
Mendengar jawaban itu, hatiku berduka dengan sangat mendalam.
“Fa.. aku sudah mengerti tentang arti air mata kamu, aku juga faham dalamnya kesedihan yang kamu rasakan, kamu harus sabar, kita harus slalu ingat semua itu sudah direnccanakan. Dan kalau ada pergi itu pasti ada pulang. Percayalah, dia telah bahagiya dengan kepulangannya. Segala kerinduannya slama ini telah terpenuhi.”
“Dia orang yang pentig buatku Di... Dia selalu ada untukku. Terkadang dia jadi guruku, terkaddang  jadi sahabatku, pokoknya dia sangat berarti dalam hiduku. Aku menyayanginya, aku sangat menyaanginya”.
“Aku juga ngerti kamu menyayanginya, jika aku teringat kata-katanya yang pernah kau ceritakan padaku,, aku juga faham diapun juga menyayangi kamu, ingat Fa... dia sayang kamu,, tentunya dia gak mau melihat kamu nangis.
Sejenak dia mengusap air matanya dan mencoba untuk tegar, dengan membangun senyuman.
“Kamu ingat kata-kata yang mana,?”
“Kamu pernah cerita kepadaku kalau dia pernah berkata bahwa perjuangannya untuk kamu sudah bertahun-tahun.”
“Ya,, aku juga baru mengerti, tentang arti perjuangannya itu.”
“Kalau boleh tahu apa artinya ?”
“Ceritanya panjang Di,, besok kamu pasti ku ceritain. Sekarang hari sudah siang kita pulang aja dulu. Terimakasih ya, kamu telah`` mengingatkanku, kalau aku harus tegar. Salah satu arti perjuangannya untukku adalah, bahwa aku harus tegar. Sekali lagi terimakasih ya !!!”
Semarak kemerdekan tercurahkan dalam prayaan-prayaan. Disana pesta di sini pesta disetiap desa-kota ada pesta. Disana sini terlihat pasangan pemuda pemudi. Dengan rasa iri tanpa sadar ku berkata “Betapa bahagiya mereka berjalan ber dua bersama pasangannya.”
“Siapa yang bahagia..?, ah,, itu bahagianya tidak lama..”
Sehentak aku kaget, tiba-tiba aja siFatus, muncul disampingku.
“Ah kamu bikin kaget aja,,,!!!!”
“Hmm… masa kaget,,, lagian napa kamu kok gnomong-ngomong sendiri..?
“Wah dah bisa senyum to…?.  Jadi sudah gak sedih lagi,…?
“Ya,, masih sedih juga sih,,..!!!, Tapi masa aku gak boleh berusaha untuk senyum…
“Ya,, boleh aja, itu kan lebih bagus,, terus gimana kelanjutannya kemarin, katamya mau cerita tentang arti perjuangan yang bertahun-tahu itu…?”
“Iya, tapi nanti kalau aku sampek nangis jangan diketawin ya,,,”
“Iya-iya.. gak munkinlah aku menertawakan kamu”.
“Arti perjuangn itu sungguh mendalam Di,, dia meninggalkan kenangan sejuta makna untukku. Untuk lebih enaknya aku ceritanya dari awal aja ya…?
“Iya… dari tadi ku dah nunggu..”
“Ya harus sabar lho… OK, ku mulai ceritanya…”
“Perjuangan itu dimulai saat aku dan dia masih kecil. Dia pernah cerita padaku kalau sejak kecil dia itu slalu ingin mendekati aku.` Dia juga mangatakan perasaannya terhadap aku itu tumbuh sejak usia kami masih kecil. Jadi dia selalu cari-cari kesempatan untuk mendekati aku untuk membuat aku memiliki perasaan yang sama dengannya. Ahirnya dia berhasil, akupun menyayanginya tapi, waktu itu ku juga masih kecil. Jadi aku masih malu-malu gitu.
Suatu yang sepesial dari dia adalah sikapnya yang dewasa. Dia menyayangiku tapi dia tidak pernah memikirkan apa yang dirasakannya kepadaku. Dia selalu mengutamakan keperluanku. Suatu ketika ketika aku sedang sekolah, dia sms aku, dan aku membalas smsnya. Dia malah memarahi aku. Katanya “Mengapa smsku kok dibales kamu kan lagi sekolah”. Ketika itu aku juga jengkel dengannya. tetapi setelah kupikir-pikir dia begitu itu karena sayang maku. Dia tidak mau kalau aku disekolah cuman smsan aja dan melupakan pelajaran. Dia tidak takut kalau aku marah atau membencinya. Dia hanya takut kalau aku malakukan kesalahan.
Ada juga hal yang membuatku bangga padanya. Waktu itu dihari Minggu aku jalan-jalan madia ke Pantai. Kami melihat orang-orang lagi pacaran. Mereka berdua-duaan dan ber mesra-mesraan. Ketika itu dia bertanya kepadaku “Kamu suka gak dengan hal  yang seperti itu ?”. Sebelum aku menjawabnya dia menyahut duluan, “Kamu harus mengerti, banyak orang mengatakan kalau melakukan hal seperti itu namanya adalah saying. Pernyataan seperti itu dalam satu sisi benar, kalau sudah ada ikatan suami istri. Akan tetapi kalau masih pacaran atau lainnya itu bukan berarti saying atau cinta. Coba dipikirkan ketika kita cinta dengan seseorang tentunya kita tidak mau kalau seseorang yang kita cintai itu bersedih atau bahkan celaka. Terus Jika ada pasangan yang belum menikah melakukan hal seperti itu, berarti dia tidak takut kalau orang yang dicintainya atau dirinya sendiri celaka diahirat. Kalau menurutku hal yang seperti itu adalah pelampiasan nafsu aja bukan cinta”.
Begitu jelas dia memberikan pengertian cinta pada ku. Dia selalu mengajariku dengan prilakunya bukan hanya dengan nasihat saja. Dari itu semua aku mengerti arti perjuangannya untukku. Dia hanya ingin aku menjadi orang yang berprinsip, bukan hanya orang yang ubyak-ubyuk dan suka ikut-ikut. Aku juga tahu, dia mengiginkan supaya aku menjadi orang yang kuat, tidak lemah, jadi aku akan beruaha tidak menangis, walaupun dia telah meninggalkan aku untuk selamanya, karena aku takut dia akan barsedih melihat aku menangis.”.
Setelah Fatus menceritakn kisah cintnya, kami pulang. Aku senang melihat sahabatku yang bisa tegar. Aku juga bangga pada sosok Alm. Muhsin yang begitu dalam mengartikan cinta. sehingga terbesrit dalam hatiku untuk meniru prilaku dan prinsip-prinsipnya. Semoga bisa…..