TULISAN YANG BERKESAN
“Buku siapa ini… !!!!.”
Senyap. Sejenak suara yang sedikit bergemuruh mereda. “Ada apa ?” Isyarat penasaran yang muncul dari mimik
wajah seluruh siswa siswi kelas 4 SD 5 tulungagung. Semuanya tegang. Kesalahan
apa yang terjadi ? Buku siapa itu ? Mengapa suara guru bahasa inggris itu
menghentak ? Apakah hasil tes pada buku itu salah semua ? Atau ada sesuatu yang
lain pada buku itu yang membuat guru yang cukup ditakuti itu kecewa? Tanya
hatiku yang mulai merudung penasaran, diiiringi detak jantung yang makin
meningkat. Rasa takut yang tiba-tiba mengefek pada diriku menghembuskan hawa
dingin keluar bersama keringat dari tubuhku membuat badanku merinding,
sampai-sampai lidahkupun terasa dingin.
Suasana masih belum
pecah, Ibu guru yang mengajar Bahasa Inggris dikelasku itu masih mengangkat
tangan kanannya sambil menunjukkan buku yang dipertanyakannya. Tangan kirinya
diatas bangku, posisi duduk, badan yang tegap, dan raut wajah muram pancaran
kekecewaan. Seluruh siswa masih terbengong dengan segala gejolak ketakutan dan
kecemasannya. Lima detik, enam detik, tujuh detik, masih belum ada yang menjawab pertanyaan itu.
“Ini buku siapa.!!!” Pertanyaan itu diucapkan lagi dengan nada yang lebih
tegas. Belum ada yang mengaku. Namun para siswa dikelasku mulai sedikit ribut.
Kami saling bertanya pada teman sebangku kami. “Bukumu ya ?”, “Bukumu ya ?”,
“Gak tahu !” “Aku juga gak tahu”, “kayanya bukumu deh ?”, “Ah bukan !”, suara
sedikit berbisik-bisik mengumpul bergemuruh seolah mengbaikan guru yang di depan.
“Brakkk..!!! Jangan ramai..!!!”
Seketika suara bisik-bisik itu jadi hening. Tangan kiri guru kami yang diatas
bangku itu memukul bangku keras-keras. Sehingga kami kembali senyap ketakutan.
Salah satu dari temanku yang paling suka jahil memberanikan diri untuk
bertanya, “Maaf Bu, kesalahan dari buku itu apa ?.”
Menerima pertanyaan itu, dengan
mata yang tetap tajam memandang murid-muridnya beliau berdiri dari kursinya,
kemudian berjalan sampai depan meja, “Lihat semuanya lihat tulisan ini,,!!!
Dari dulu kan sudah ibu ajarin menulis yang baik. Dari kelas satu, dua sampai
kelas tiga. Selama tiga tahun kalian sudah ibu ajarin bagaimana nulis yang
bagus,,!! kalau nulis huruf G kecil, P kecil, dan J kecil itu agak menggantung,
biar bagus..!! Hurufnya kalau nulis agak besar, rapi dan tegak biar enak
dibaca.. !!!.”Suara guruku, begitu keras, tapi kami masih terbengong-bengong karena
kami tidak melihat apa-apa pada buku itu. Jangankan rangkaian tulisan yang
jelek, satu hurufpun tidak kami temukan pada halaman buku yang dibuka dan
diangkat tinggi-tinggi dari tadi. Hanya garis-garis horizontal yang rapi yang
terlihat.
“Maaf Bu, tulisannya yang
mana ?” Tanya temenku yang lain.
Mendengar pertanyaan itu
kelihatannya guruku mulai berfikir, mencoba menurunkan tangannya dan melihat
halaman yang dibukanya. Semua masih diam, guruku pun juga masih diam, ku lihat-lihat
wajah beliau agaknya kecewa dengan
dirinya sendiri yang salah membuka halaman. Dengan sedikit jengkel beliau
membolak balikkan halaman buku mencari-cari halaman yang tepat ada tulisan yang
dimaksudnya. Melihat hal itu entah mengapa aku tidak kuat menahan senyumku.
Kulihat beberapa temanku juga begitu. Namun kami tetap berusaha memasang wajah
yang takut dan cemas agar gurukami tidak tambah marah. Setelah menemukan
tulisan yang di maksud, “Ini tulisannya,,!!!”. Masih dengan nada yang tegas
beliau memperlihatkan tulisan itu.
Melihat tulisan itu aku
kembali meragu, cemas dan penuh prasangka. Sepertinya itu tulisanku. Aku
terdiam sejenak. Tak lama setelah membuka tulisan itu guruku membalikkan buku
itu dan memperlihatkan covernya. Taksalah lagi
itu memang benar-benar bukuku. Dengan
penuh rasa malu aku melangkah kedepan dan berdiri disamping guruku dengan
merundukkan kepala aku mengucapkan, ”Maaf Bu, itu bukuku, maafbu tulisanku
jelek, padahal saya sudah berusaha menulis sebaik-baiknya.”