GURUKU YANG CANTIK
Bel belum
berbunyi. Aku duduk di teras kelas. Tidak ada teman yang menghampiri. Nampaknya
aneh, biasanya teman-teman sekelasku bermain di halaman tapi kali ini tidak ada
satupun yang berkeliaran. Aku hanya melihat adik-adik kelasku di sana sini
membawa bungkusan jajan, mereka
adalah anak-anak kelas satu dan dua. Ada juga yang bermain sodoran (Go
back to door), mereka anak-anak kelas tiga dan empat. Di ujung halaman
dekat masjid ada anak-anak yang bermain bola, mereka kelas lima.
“Mana yang
kelas enam ya..!!” tanpa sadar aku bicara sendiri sambil memutar-mutarkan mata
berusaha menemukan teman-temanku. Biasanya jam segini mereka yang cowok ikut
bermain bola dihalaman.
“Mas Bro..!!!!”
“Oei…!!!”
aku tersentak kaget, tiba-tiba Faruq menyapa dengan nada tinggi di dekat
kupingku. Kelihatannya memang disengaja, tapi tidak apa-apa, karena aku juga
sering bersikap seperti itu. “Ah bro.. ngagetin aja,, mana yang lain..??”
“Mereka di
kelas.” Perlahan temanku mendorong tubuhku, “geser sedikit dong bro,,!!” Aku
sedikit geser ke kiri memberi Faruq tempat untuk duduk, “ahhh.. akhirnya duduk
juga”.
“Pagi-pagi
sudah ngemut permen, dapat dari siapa..?” aku mulai meledek.
“Hmm… kok
tau kalau aku ngemut permen..??” jawab Faruq sambil memutar-mutar permen di
mulutnya.
“Tadi pas kamu
bilang ‘ahhh..’ baunya sampe ke hidungku” ejekku sambil menutup hdung.
“Wah.. ga
usah nutup hidug gitu kalee..” nampaknya faruq mulai tersinggung.
“Hehehe…
gausah marah gitu kalee..” sambil kusenggol pundak Faruq dengan pundakku. “kamu
kok tenang-tenang saja. Teman-teman pada ngerjain tugas tu..”
“Wah,, tugas
apa..??” jawabku terkejut.
“Tugas dari
bu Erni. Kemarin kan ada PR..”
“Wah,,
gila..”. ku tamparkan tanganku ke kening, “aku lupa..!! kamu sudah selesai ??”
“Sudah, tu
anak-anak pada nyontek punyaku. Sebagai imbalan ni, aku di kasih permen.”
Tiba-tiba ia membuka mulut dan “Hahhh!!!!”, Seng.. bau permen menyengat
hidungku.
Tanpa pikir
panjang aku langsung bergegas ke kelas. Tidak ku hiraukan bau permen yang
dipamerkan Faruk. Aku berlari menaiki tangga dan segera masuk kelas.
“Hai semua..
Hah..hah”, sapaku sambil ngos-ngosan.
Tidak ada
jawaban dari sapaanku. Teman-temanku nampak repot semua. Terlihat mereka
bergerombol mengitari bangku dengan tubuh sedikit bergerak karena pengaruh
gerakan tangan yang tergesa-gesa menulis contekan. Nampaknya tidak ada tempat
untukku. Aku alihkan pandangan ke bangku pojok paling belakang. Terlihat Rika
sedang menyontek PR sendirian. Akhirnya, aku ambil posisi di samping Rika.
Terdengar sebagian temanku berbisik-bisik sambil melirik kearah kami. Nampaknya
mereka sedang membicarakan tentang aku yang duduk di samping Rika. Rika adalah
salah satu temanku yang dikucilkan oleh teman-teman yang lain. Dia dikucilkan
karena fisiknya yang cacat. Tangan kirinya tidak bisa lurus. Karena dikucilkan,
ia sering menyendiri. Entah menyontek punya siapa. Biasanya Rika selalu
mengerjakan PR sendiri, tapi enthlah kali ini aneh, tiba-tiba ia juga ikut nyontek.
Tak ku
hiraukan kasak-kusuk teman-teman yang menggosip tentang aku dan Rika. Aku membuka
tas. Kuambil buku pelajaran IPA. Aku masih ingat, buku tugas matematika ku
kemarin berada di dalam buku paket IPA. Aku sibuk mencarinya. Akhirnya
kutemukan juga buku itu. Ketika aku mengambilnya, terlihat ada gambar rumah
reyot di halaman tempat buku tugasku terselip. “Degg” sejenak aku diam. Gambar
rumah yang mirip dengan rumah kakek Seno. Aku teringat janji yang ku ucapkan
tadi. Aku teringat kata-kata kakek. “ssst.. huufff..” aku menghela nafas.
Bingung,
sedih, takut, berkumpul menjadi satu. Aku bingung antara menyontek atau
menepati janji. Aku sedih karena kalau aku tidak mengerjakan PR, aku tidak akan
mendapatkan nilai. Sedangkan aku takut kalau aku tidak mengerjakan tugas nanti
dimarahi bu Erni.
“ingat
le…nialai jelek yang kamu dapatkan dari kerjaan sendiri itu lebih membanggakan
daripada nilai bagus tapi hasil krjaan orang lain.” suara kakek terdengar lagi di telingaku.
Perlahan aku
meninggalkan bangku Rika menuju bangkuku. Rika nampaknya memperhatikanku. Aku
diam saja.
“teng-teng-teng..!!”
bel berbunyi. Aku berusaha menenangkan diri. Ku buka buku tugas. Aku membaca
soal-soal PR itu. Kepalaku bergeleng-geleng. Tidak ada satupun soal yang ku
pahami. So’al matematika. So’al yang jawabannya tidak bisa didapatkan pada buku
paket. Di buku paket hanya ada rumus-rumus penyelesaiannya. Huft, aku pasti
tidak bisa mengerjakannya.
Teman-temanku
perlahan menata diri pada posisi masing-masing. Nampak wajahnya ceria tanpa
beban, karena mereka telah menyelesaikan tugasnya. Faruk perlahan duduk di
sampingku. Sejenak ia melihati aku.
“Ada apa
bro, kusut gitu..?” faruk menanyai aku.
“Gak ada
apa-apa.” Jawabku dingin.
Faruk diam
begitu saja, repot dengan mainan yang ada di tangannya. Nampaknya mainan baru.
Mungkin ia beli dari pak Jupiter yang biasa jualan di depan sekolah.
Pikiranku
melayang kemana-mana, tiba-tiba aku memikirkan apa saja yang kulihat. Mulai
dari Faruk dan mainannya, Rika yang sibuk membaca, sampai kaki salah seorang
temanku yang digeleng-gelengkan di atas panjatan bangku. Entah, tiba-tiba aku
bosan memikirkan tugas yang belum ku kerjakan. Yang jelas tidak mungkin aku
menyontek lagi, dan tidak mungkin pula aku bisa mengerjakan tugas dalam waktu
sesingkat ini. Bell terlanjur sudah berbunyi.
Hatiku
cemas, badanku lemas. Apa yang akan terjadi ? tentunya aku akan dimarahi bu
Erni, dan aku tidak akan mendapatkan nilai. Aku akan malu dan mendapatkan nilai
yang buruk. “huft” ku letakkan kepalaku diatas tas dengan kedua tanganku
mengganjalnya.
“tok,tok,tok,tok.”
Terdengar di telingaku teriakan sepatu. Suara yang khas, suara sepatu hak
tinggi ibu guru. Temanku tenang sejenak kemudian diantara mereka ada yang
berbisik “eh, guru baru-guru baru.”
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabara katuh…” terdegar suara salam lembut nan indah menggema
memenuhi ruang kelas kami. Suara yang berbeda dari biasanya. hatiku
menerka-nerka. Bukan, ini bukan suara bu Erni. Suara bu Erni biasanya terdengar
tegas, tidak lembut seperti ini.
“Wa’alaikum
salam warahmatulahi wabara katuh..” kami menjawab salam itu bersama-sama. Aku
menjawab salam sembari membangunkan kepalaku melihat pemilik suara lembut
trsebut.
“Wooooww”,
teriak hatiku. Aku terkejut sampai tidak terasa mulutku terbuka, mlongo,
Mataku terbelalak, dan badanku sedikit gemetaran. “Luar biasa” sambil bergeleng
tidak sengaja aku mengucap kata-kata begitu saja.
“Apanya yang
luar biasa” Faruk menenyaiku.
“Cantik
bener..” tak sengaja lagi kata-kata itu keluar begitu saja. Semua teman
menertawakanku. Tanpa terkecuali ibu guru itu.
Suara tawa
yang begitu keras membangunkan aku dari sihir pesona kecantikan ibu guru. Aku
melihat ke depan, kanan, kiri dan belakang, semua teman melihatku sambil
tertawa. Seperti orang dungu aku tersenyum begitu saja. Seper sekian detik
mataku melirik kearah ibu guru nampaknya beliau juga sedang tertawa sambil
melihatku. Aduuh,, betapa malunya diriku.
“Siapa
namanya ?” suara lembut menenangkan gemuruh tawa satu kelas. “hei,, siapa
namamu ?”
Sejenak aku
diam. Aku tahu ibu guru itu bertanya padaku. Kepalaku merunduk, tidak berani memandangnya. Aku ingin menjawabnya
tetapi aku masih gugup. Aku tarik nafas, kecil, perlahan.
“heh ditanya
ibu guru itu lho..” kata Faruk sabil menjorokkan pundakku.
“tok, tok,
tok,” suara sepatu berjalan lambat terdengar makin keras, pertanda bu Guru itu
mendekat. Membuat aku semakin malu, deg-degan. “namanya siapa ?”
“em,, anu
bu..” begitu groginya sampai aku lupa siapa namaku. “anu.. bu..”
“namanya Anu
bu..!!!!” teriak Toni.
“Ha.ha.ha.ha…!!”semua
tertawa.
“tenang-tenang,, anak-anak…” semua terdengar tenang dan
nampaknya masih memperhatikan aku. “Ayo, jawab dulu, siapa nama kamu. ?”
Aku sudah
terlanjur malu. Semuanya terlanjur menertawakan aku. Perlahan kukumpulkan rasa
percaya diriku. Ku usap keringat dingin di mukaku. Aku ambil nafas pelan sedikit dalam, kemudian
mengangkat kapala sambil menghembuskannya pelan. Aku tatap wajah cantik itu
sopan. Dengan sedikit malu aku berkata “namaku Raihan bu…”
Ibu guru itu
tersenyum. “Nah, gitu dong di jawab. Ditanya dari tadi kok gak dijawab-jawab.”
Ibu guru itu kembali ke kedepan, mengambil posisi seperti semula. “baik
anak-anak, Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Indah Purnamasari. Kalian bisa
memanggil saya bu Indah. Saya tinggal di Dusun Ngrawan Desa Tunggangri,
tepatnya gerdu selatan Bok Duwur itu ke timur, utara jalan. Mulai hari
ini, saya yang akan mengajar kalian matematika.”
“Bu Erni
kemana bu ?” Tanya Faruq,
“Bu Erni,
ngajar di kelas Lima. Baik sekarang ganti saya ya yang kenalan dengan anak-anak
semua. Atau ada yang perlu ditanyakan tentang saya ?”
“Sudah
menikah apa belum Bu,,” teriak Toni sedikit kurang sopan.
“Hm…
Alhamdulillah masih akan”
“hu..
kasian, Ahsan akan ditinggal menikah”, teriak Toni mengejekku.
“Hahahaha…”
kelasku kembali bergemuruh tertawa.
“kamu siapa
namanya ?” Tanya bu Indah pada Toni.
“Saya Toni
Bu..” Jawab Toni sambil merunduk.
“Jangan suka
mengejek taman, ya…!!!”
“Iya bu…”.
Jawab Toni dengan pipi kemerahan.
Bu Indah.
Memang nama yang indah, sikapnya lembut indah, bahkan suara sepatunya juga
indah. Belum lagi kalau melihat beliau senyum, wah rasanya mau memperhatikan
terus.
Setelah
memperkenalkan diri bu Indah juga berkenalan dengan kami. Semua ditanya nama
dan alamat rumahnya. Aku pun juga kembali ditanya. Tadi aku masih
memperkenalkan namaku, sedangkan alamat rumahku bu Indah masih belum tahu.
Ketika menanyai aku, bu Indah nampaknya sengaja mengajukan banyak pertanyaan,
mungkin ngetes apakah aku masih grogi atau sudah biasa. Ternyata aku sudah
biasa, karena bu Indah kurasakan juga biasa dengan aku.
“Kata Bu
Erni kemarin kelas ini ada PR, PRnya
yang mana ?”
“Degg…!!!”
To be continued…