Senin, 27 April 2015

Sambungan semangat dari kakek


GURUKU YANG CANTIK


Bel belum berbunyi. Aku duduk di teras kelas. Tidak ada teman yang menghampiri. Nampaknya aneh, biasanya teman-teman sekelasku bermain di halaman tapi kali ini tidak ada satupun yang berkeliaran. Aku hanya melihat adik-adik kelasku di sana sini membawa bungkusan jajan,  mereka adalah anak-anak kelas satu dan dua. Ada juga yang bermain sodoran (Go back to door), mereka anak-anak kelas tiga dan empat. Di ujung halaman dekat masjid ada anak-anak yang bermain bola, mereka kelas lima.
“Mana yang kelas enam ya..!!” tanpa sadar aku bicara sendiri sambil memutar-mutarkan mata berusaha menemukan teman-temanku. Biasanya jam segini mereka yang cowok ikut bermain bola dihalaman.
“Mas Bro..!!!!”
“Oei…!!!” aku tersentak kaget, tiba-tiba Faruq menyapa dengan nada tinggi di dekat kupingku. Kelihatannya memang disengaja, tapi tidak apa-apa, karena aku juga sering bersikap seperti itu. “Ah bro.. ngagetin aja,, mana yang lain..??”
“Mereka di kelas.” Perlahan temanku mendorong tubuhku, “geser sedikit dong bro,,!!” Aku sedikit geser ke kiri memberi Faruq tempat untuk duduk, “ahhh.. akhirnya duduk juga”.
“Pagi-pagi sudah ngemut permen, dapat dari siapa..?” aku mulai meledek.
“Hmm… kok tau kalau aku ngemut permen..??” jawab Faruq sambil memutar-mutar permen di mulutnya.
“Tadi pas kamu bilang ‘ahhh..’ baunya sampe ke hidungku” ejekku sambil menutup hdung.
“Wah.. ga usah nutup hidug gitu kalee..” nampaknya faruq mulai tersinggung.
“Hehehe… gausah marah gitu kalee..” sambil kusenggol pundak Faruq dengan pundakku. “kamu kok tenang-tenang saja. Teman-teman pada ngerjain tugas tu..”
“Wah,, tugas apa..??” jawabku terkejut.
“Tugas dari bu Erni. Kemarin kan ada PR..”
“Wah,, gila..”. ku tamparkan tanganku ke kening, “aku lupa..!! kamu sudah selesai ??”
“Sudah, tu anak-anak pada nyontek punyaku. Sebagai imbalan ni, aku di kasih permen.” Tiba-tiba ia membuka mulut dan “Hahhh!!!!”, Seng.. bau permen menyengat hidungku.
Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas ke kelas. Tidak ku hiraukan bau permen yang dipamerkan Faruk. Aku berlari menaiki tangga dan segera masuk kelas.
“Hai semua.. Hah..hah”, sapaku sambil ngos-ngosan.
Tidak ada jawaban dari sapaanku. Teman-temanku nampak repot semua. Terlihat mereka bergerombol mengitari bangku dengan tubuh sedikit bergerak karena pengaruh gerakan tangan yang tergesa-gesa menulis contekan. Nampaknya tidak ada tempat untukku. Aku alihkan pandangan ke bangku pojok paling belakang. Terlihat Rika sedang menyontek PR sendirian. Akhirnya, aku ambil posisi di samping Rika. Terdengar sebagian temanku berbisik-bisik sambil melirik kearah kami. Nampaknya mereka sedang membicarakan tentang aku yang duduk di samping Rika. Rika adalah salah satu temanku yang dikucilkan oleh teman-teman yang lain. Dia dikucilkan karena fisiknya yang cacat. Tangan kirinya tidak bisa lurus. Karena dikucilkan, ia sering menyendiri. Entah menyontek punya siapa. Biasanya Rika selalu mengerjakan PR sendiri, tapi enthlah kali ini aneh, tiba-tiba ia juga ikut nyontek.
Tak ku hiraukan kasak-kusuk teman-teman yang menggosip tentang aku dan Rika. Aku membuka tas. Kuambil buku pelajaran IPA. Aku masih ingat, buku tugas matematika ku kemarin berada di dalam buku paket IPA. Aku sibuk mencarinya. Akhirnya kutemukan juga buku itu. Ketika aku mengambilnya, terlihat ada gambar rumah reyot di halaman tempat buku tugasku terselip. “Degg” sejenak aku diam. Gambar rumah yang mirip dengan rumah kakek Seno. Aku teringat janji yang ku ucapkan tadi. Aku teringat kata-kata kakek. “ssst.. huufff..” aku menghela nafas.
Bingung, sedih, takut, berkumpul menjadi satu. Aku bingung antara menyontek atau menepati janji. Aku sedih karena kalau aku tidak mengerjakan PR, aku tidak akan mendapatkan nilai. Sedangkan aku takut kalau aku tidak mengerjakan tugas nanti dimarahi bu Erni.
“ingat le…nialai jelek yang kamu dapatkan dari kerjaan sendiri itu lebih membanggakan daripada nilai bagus tapi hasil krjaan orang lain.” suara kakek terdengar lagi di telingaku.
Perlahan aku meninggalkan bangku Rika menuju bangkuku. Rika nampaknya memperhatikanku. Aku diam saja.
“teng-teng-teng..!!” bel berbunyi. Aku berusaha menenangkan diri. Ku buka buku tugas. Aku membaca soal-soal PR itu. Kepalaku bergeleng-geleng. Tidak ada satupun soal yang ku pahami. So’al matematika. So’al yang jawabannya tidak bisa didapatkan pada buku paket. Di buku paket hanya ada rumus-rumus penyelesaiannya. Huft, aku pasti tidak bisa mengerjakannya.
Teman-temanku perlahan menata diri pada posisi masing-masing. Nampak wajahnya ceria tanpa beban, karena mereka telah menyelesaikan tugasnya. Faruk perlahan duduk di sampingku. Sejenak ia melihati aku.
“Ada apa bro, kusut gitu..?” faruk menanyai aku.
“Gak ada apa-apa.” Jawabku dingin.
Faruk diam begitu saja, repot dengan mainan yang ada di tangannya. Nampaknya mainan baru. Mungkin ia beli dari pak Jupiter yang biasa jualan di depan sekolah.
Pikiranku melayang kemana-mana, tiba-tiba aku memikirkan apa saja yang kulihat. Mulai dari Faruk dan mainannya, Rika yang sibuk membaca, sampai kaki salah seorang temanku yang digeleng-gelengkan di atas panjatan bangku. Entah, tiba-tiba aku bosan memikirkan tugas yang belum ku kerjakan. Yang jelas tidak mungkin aku menyontek lagi, dan tidak mungkin pula aku bisa mengerjakan tugas dalam waktu sesingkat ini. Bell terlanjur sudah berbunyi.
Hatiku cemas, badanku lemas. Apa yang akan terjadi ? tentunya aku akan dimarahi bu Erni, dan aku tidak akan mendapatkan nilai. Aku akan malu dan mendapatkan nilai yang buruk. “huft” ku letakkan kepalaku diatas tas dengan kedua tanganku mengganjalnya.
“tok,tok,tok,tok.” Terdengar di telingaku teriakan sepatu. Suara yang khas, suara sepatu hak tinggi ibu guru. Temanku tenang sejenak kemudian diantara mereka ada yang berbisik “eh, guru baru-guru baru.”
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabara katuh…” terdegar suara salam lembut nan indah menggema memenuhi ruang kelas kami. Suara yang berbeda dari biasanya. hatiku menerka-nerka. Bukan, ini bukan suara bu Erni. Suara bu Erni biasanya terdengar tegas, tidak lembut seperti ini.
“Wa’alaikum salam warahmatulahi wabara katuh..” kami menjawab salam itu bersama-sama. Aku menjawab salam sembari membangunkan kepalaku melihat pemilik suara lembut trsebut.
Wooooww”, teriak hatiku. Aku terkejut sampai tidak terasa mulutku terbuka, mlongo, Mataku terbelalak, dan badanku sedikit gemetaran. “Luar biasa” sambil bergeleng tidak sengaja aku mengucap kata-kata begitu saja.
“Apanya yang luar biasa” Faruk menenyaiku.
“Cantik bener..” tak sengaja lagi kata-kata itu keluar begitu saja. Semua teman menertawakanku. Tanpa terkecuali ibu guru itu.
Suara tawa yang begitu keras membangunkan aku dari sihir pesona kecantikan ibu guru. Aku melihat ke depan, kanan, kiri dan belakang, semua teman melihatku sambil tertawa. Seperti orang dungu aku tersenyum begitu saja. Seper sekian detik mataku melirik kearah ibu guru nampaknya beliau juga sedang tertawa sambil melihatku. Aduuh,, betapa malunya diriku.
“Siapa namanya ?” suara lembut menenangkan gemuruh tawa satu kelas. “hei,, siapa namamu ?”
Sejenak aku diam. Aku tahu ibu guru itu bertanya padaku. Kepalaku merunduk,  tidak berani memandangnya. Aku ingin menjawabnya tetapi aku masih gugup. Aku tarik nafas, kecil, perlahan.
“heh ditanya ibu guru itu lho..” kata Faruk sabil menjorokkan pundakku.
“tok, tok, tok,” suara sepatu berjalan lambat terdengar makin keras, pertanda bu Guru itu mendekat. Membuat aku semakin malu, deg-degan. “namanya siapa ?”
“em,, anu bu..” begitu groginya sampai aku lupa siapa namaku. “anu.. bu..”
“namanya Anu bu..!!!!” teriak Toni.
“Ha.ha.ha.ha…!!”semua tertawa.
“tenang-tenang,,  anak-anak…” semua terdengar tenang dan nampaknya masih memperhatikan aku. “Ayo, jawab dulu, siapa nama kamu. ?”
Aku sudah terlanjur malu. Semuanya terlanjur menertawakan aku. Perlahan kukumpulkan rasa percaya diriku. Ku usap keringat dingin di mukaku.  Aku ambil nafas pelan sedikit dalam, kemudian mengangkat kapala sambil menghembuskannya pelan. Aku tatap wajah cantik itu sopan. Dengan sedikit malu aku berkata “namaku Raihan bu…”
Ibu guru itu tersenyum. “Nah, gitu dong di jawab. Ditanya dari tadi kok gak dijawab-jawab.” Ibu guru itu kembali ke kedepan, mengambil posisi seperti semula. “baik anak-anak, Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Indah Purnamasari. Kalian bisa memanggil saya bu Indah. Saya tinggal di Dusun Ngrawan Desa Tunggangri, tepatnya gerdu selatan Bok Duwur itu ke timur, utara jalan. Mulai hari ini, saya yang akan mengajar kalian matematika.”
“Bu Erni kemana bu ?” Tanya Faruq,
“Bu Erni, ngajar di kelas Lima. Baik sekarang ganti saya ya yang kenalan dengan anak-anak semua. Atau ada yang perlu ditanyakan tentang saya ?”
“Sudah menikah apa belum Bu,,” teriak Toni sedikit kurang sopan.
“Hm… Alhamdulillah masih akan”
“hu.. kasian, Ahsan akan ditinggal menikah”, teriak Toni mengejekku.
“Hahahaha…” kelasku kembali bergemuruh tertawa.
“kamu siapa namanya ?” Tanya bu Indah pada Toni.
“Saya Toni Bu..” Jawab Toni sambil merunduk.
“Jangan suka mengejek taman, ya…!!!”
“Iya bu…”. Jawab Toni dengan pipi kemerahan.
Bu Indah. Memang nama yang indah, sikapnya lembut indah, bahkan suara sepatunya juga indah. Belum lagi kalau melihat beliau senyum, wah rasanya mau memperhatikan terus.
Setelah memperkenalkan diri bu Indah juga berkenalan dengan kami. Semua ditanya nama dan alamat rumahnya. Aku pun juga kembali ditanya. Tadi aku masih memperkenalkan namaku, sedangkan alamat rumahku bu Indah masih belum tahu. Ketika menanyai aku, bu Indah nampaknya sengaja mengajukan banyak pertanyaan, mungkin ngetes apakah aku masih grogi atau sudah biasa. Ternyata aku sudah biasa, karena bu Indah kurasakan juga biasa dengan aku.
“Kata Bu Erni kemarin kelas ini ada PR,  PRnya yang mana ?”
“Degg…!!!”
To be continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar