Pagi
yang indah. Seindah burung-burung berkicau menambah kesempurnaan alam yang
hijau. Seindah Bajing-bajing yang melompat dari pohon kelapa satu dengan yang
lain. seindah kupu-kupu yang berterbangan dari bunga satu ke bunga lain. seindah
senyuman para petani ketika melihat tanamannya menghijau subur. Itulah alam
desaku yang permai, damai, sejuk tanpa kebisingang hiruk.
Setiap
pagi aku menikmati keindahan alamku. Aku berjalan di punggung jalan berdasarkan
batu ditutup kerikil dan diselimuti pasir halus. “Makadam” orang-orang
sering menyebut model jalan ini. Aku berjalan dengan penuh kenikmatan menuju
sekolah yang tidak jauh dari rumahku. Biasanya ada satu atau dua teman yang
menemani, tapi entahlah mereka belum juga muncul sedari tadi.
Perjalananku
sampai di gang. Aku berhenti berusaha bersabar menunggu teman-temanku sebelum
belok ke gang. Mereka tetap tidak muncul-muncul juga. “jam berapa ini ya..??”
hatiku bertanya-tanya. Aku tidak punya jam tangan. Aku mencoba mengintip-intip
jam dinding yang berada di dalam rumah dekat gang itu, namun tidak kutemukan.
Ini
bukan masalah kesetiakawanan, akan tetapi ini masalah keberanian. Sering aku
mendengar cerita-cerita aneh tentang gang ini. Ada orang yang pernah kalap (nyasar
ke alam lain) ketika berjalan di gang ini sendirian. Ada juga yang menceritakan
kalau gang ini banyak makhluk dedemitnya semisal pocong, kuntilanak, gendruwo
dan sebagainya. Entah cerita tersebut benar adanya atau tidak. Dulu sebelum aku
mendengar cerita itu aku merasa biasa aja lewat jalan ini dan juga tidak
terjadi apa-apa. Akan tetapi kini rasa takut selalu menyelimutiku ketika
melangkahkan kaki di gang.
Tubuhku
mulai merinding mengingat cerita orang-orang. akan tetapi aku harus tetap
lanjut. Kalau aku terlambat, aku akan dihukum, dan aku pasti malu dilihat
teman-temanku terutama teman cewek. sebelum melangkahkan kaki ke gang, aku
membangun keyakinan bahwa tidak akan terjadi apa-apa, sebagaimana dulu aku
sering berjalan di gang ini sendiri.
“Bismillahirrahmanirrahim”.
Aku mulai melangkah lebih cepat. Aku tidak melihat kanan kiri. Keindahan alam
kulupakan, Kicauan burung ku abaikandan, dan bajing-bajing yang melompat tidak
kuperhatikan. aku hanya melihat ujung gang. Aku ingin cepat sampai di sana. Tiba-tiba
:
“Mau sekolah le..??”
“Deg”,,
Ku hentikan langkahku. entah mengapa, rasanya aku ingin lari, tapi aku juga penasaran. Ku cari dari mana sumber
suara itu. Ketika tadi belok ke gang, jelas tidak ada seorangpun yang sedang
berjalan kecuali aku sendiri. Jantungku semakin berdetak kencang. Keringat
dingin keluar. Sementara itu mataku masih menelusur menerobos sela-sela pagar
tanaman mencari-cari sumber suara yang terdengar tua.
“Uhhuk…uhhuk..”
“debb-debb,
debb-debb..” jantungku berdetak lebih kencang lagi seolah mengajak lari dari
tempatku berdiri. Namun aku masih kuat. Rasa penasaranku makin bertambah.
Telingaku menangkap sumber suara berada di balik pohon randu yang besar.
Ternyata benar. sosok tua, bersahaja,
membungkuk dengan tongkat di tangan, memandangku di samping pohon itu.
“hmmm..
kenapa bingung le..” terlihat wajah kakek tua tersenyum dengan kumis putihnya
melebar ke kanan dan ke kiri. Ku perhatikan juga kakinya ternyata ngambah.
Menurut film kalau ngambah berarti bukan hantu.
“Huffsss..”
aku mengeluarkan nafas berusaha menenangkan jantungku. “ternyata kakek...!”
Ternyata
suara yang membuat aku gemetaran adalah suara kakek Seno. Ia merupakan
satu-satunya orang yang memiliki rumah di tengah gang ini. Ia sendirian, tapi
anehnya ia tidak pernah takut tinggal di gang yang sering disebut angker ini.
“maaf
kalau tadi membuat kaget..” jawab kakek sambil berjalan menuju tempatku
berdiri.
“Perasaan, tadi tidak ada orang di sini dan
kakek juga tidak ada di samping pohon itu..?”
“hmm
tadi, pas kakek memanggil kamu yang pertama, kakek berada di sebelah selatan
pohon itu. nah,, pas kamu tolah-toleh, kakek ada di balik pohon itu. hmm..”
kakek itu tersenyum seolah meledekku.
“ou..
jadi kakek sengaja ngerjain aku biar takut nih..!!” jawabku dengan memandang
kakek itu tajam.
“tidak,
bukan maksudku ngerjain kamu.. buat apa coba..” ia balik memandangku serius.
“terus
kakek kenapa setelah memanggil sembunyi di balik pohon ??” aku bicara sambil
memanyunkan bibir. Kesal.
“Hmm..
jangan cemberut gitu dong,,” kakek berusaha memegang pundakku. “tadi kakek
kebelet buang air kecil, dari pada kakek nunggu kamu tolah-toleh terus ngompol,
gimana hayo !!”
“hehehe..”
aku tertawa tertahan sambil menutupi gigiku. “kakek buang air kok di situ tidak
di kamar mandi ?” tanyaku sedikit meledek.
“disini
tidak ada kamar mandi. Wong buat nunggu kamu tolah-toleh aja tidak kuat apa
lagi, pergi ke kamar mandi” kakek, mamandangku dengan penuh senyuman. “aku itu
sudah tua le,, tidak seperti kamu yang masih bisa menunda-nunda buang air”
“hm..
iya kek..” aku mengangguk sambil menahan tawa menjaga sopan. Rasa takutku
tiba-tiba hilang ditelan tawa karena kelucuan kakek.
“Berangkat sekolah ya ?”. kakek mengulangi pertanyaannya
sambil menuntunku melanjutkan perjalanan.
“iya
kek.” Aku juga berjalan disamping kakek tua itu. “kakek kok ada di sini ?
Setahuku kakek biasanya berada dirumah
pak Muji anak kakek itu.”
“Iya..
kemarin-kemarin kakek lagi sakit, daripada tidak ada yang urus, Muji mengajakku
tinggal dirumahnya. Tapi sekarang kakek sudah sehat lagi jadi kakek kembali
kerumah”.
“kenapa
kakek tidak tinggal terus sama pak Muji aja ??” perjalanan kami terhenti
didepan rumah tua. Rumah milik kakek. Sebenarnya aku ingin bertanya kepada
kakek tentang kebenaran cerita orang-orang tentang gang ini akan tetapi belum
ada kesempatan yang pas.
“hm..
menurut kakek enak tinggal dirumah sendiri, Meskipun tidak ada yang menemani.
Rumah ini penuh sejarah le,, penuh kenangan. Rumah ini dulu dibangun dengan
jerih payah sendiri. Maka dari itu, meskipun sudah reyot kakek tetep krasan di
rumah ini.”
“o,,
gitu to kek.” Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Jadi kalau hasil jerih payah
sendiri itu, selalu terkenang ya..?”
“bukan
hanya terkenang le.. tapi ada rasa bangga juga.”. Kakek memegang pundakku lagi
sambil memandang serius. “kalau di sekolah, kamu seharusnya juga begitu le.”
Sejenak ku kerutkan dahi brusaha memahami kata-kata
kakek, “di sekolah, maksunya apa kek,,??”
“maksudnya,
kalau disekolah ada tugas apapun, kamu harus mengerjakan sendiri. nialai jelek
yang kamu dapatkan dari kerjaan sendiri itu lebih mmbanggakan daripada nilai
bagus tapi hasil krjaan orang lain.” Kakek menepuk-nepuk punggungku.
Sejenak
aku menundukkan kepala. Mendengar nasihat kakek, aku merasa malu. Setiap hari
aku selalu mencontek kerjaan temanku. Nilai ulanganku selalu baik, tidak pernah
kurang dari 80. Akan tetapi, aku tidak
pernah merasa bangga. aku hanya memerasakan kesenangan sesaat ketika melihat
nilai contekanku yang bagus.
Aku
kagum dengan kakek itu. ia tetap betah tinggal di rumah yang sudah reyot. Rumah
yang mnurutku tidak patut lagi ditempati. Rumah yang bebrapa gentingnya
melorot, dindingnya gedhek banyak
yang bolong, halamannya penuh dngan
daun-daun berjatuhan, kalau malam tanpa listrik, trlihat gelap, suram. Orang-orang
mengatakan rumah itu angker dan sebagainya. Namun, rumah itu penuh kenangan
bagi kakek. Dalam kenangan itu ada sesuatu yang dibanggakan. Ada sesuatu yang
membahagiakan.
Kakek
itu telah berjalan menuju pintu rumahnya. Aku melanjutkan perjalananku yang
masih sparo lagi sampai. Aku tidak lagi ketakutan. Hanya saja entah mngapa
kata-kata terakhir kakek selalu terdengar di telingaku. Tatapan mata kakek yang
penuh semangat selalu terlihat dalam bayanganku. Tepukan tangan kakek di
punggungku masih saja terasa getarannya sampai jiwaku. Aku kembali memikirkan
apa yang telah ku kerjakan selama ini. Setiap hari aku berjelan menuju sekolah,
pamit dengan orang tua, dikasih uang saku, akan tetapi di sekolah aku tidak pernah
serius belajar. Aku selalu mengabaikan penjelasan guru, dan ketika ulangan aku
mencontek jawaban teman. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin bahagia seperti
kakek. Aku ingin merasakan kebahagiaan atas jerih payahku sendiri bukan hasil
contekan orang lain. Aku ingin kebanggaan dari usaha yang aku laukan.
Sejenak
aku berhenti mlangkah. Aku menengok kearah rumah kakek. Dengan sepenuh jiwa aku
menggumam, “kek,, mulai sekarang aku brjanji, aku akan selalu mengerjakan
tugas-tugas sekolahku sndiri.” Aku ingin mempunyai kenangan. Aku ingin
mempunyai sesuatu yang bisa ku banggakan. Aku ingin merasa bahagia seperti yang
kakek rasakan.
To
be continued… (Guruku yang
Cantik)
*****
Oleh: Hay_Hasan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar