Senin, 27 April 2015

SEMANGAT DARI KAKEK


Pagi yang indah. Seindah burung-burung berkicau menambah kesempurnaan alam yang hijau. Seindah Bajing-bajing yang melompat dari pohon kelapa satu dengan yang lain. seindah kupu-kupu yang berterbangan dari bunga satu ke bunga lain. seindah senyuman para petani ketika melihat tanamannya menghijau subur. Itulah alam desaku yang permai, damai, sejuk tanpa kebisingang hiruk.
Setiap pagi aku menikmati keindahan alamku. Aku berjalan di punggung jalan berdasarkan batu ditutup kerikil dan diselimuti pasir halus. “Makadam orang-orang sering menyebut model jalan ini. Aku berjalan dengan penuh kenikmatan menuju sekolah yang tidak jauh dari rumahku. Biasanya ada satu atau dua teman yang menemani, tapi entahlah mereka belum juga muncul sedari tadi.
Perjalananku sampai di gang. Aku berhenti berusaha bersabar menunggu teman-temanku sebelum belok ke gang. Mereka tetap tidak muncul-muncul juga. “jam berapa ini ya..??” hatiku bertanya-tanya. Aku tidak punya jam tangan. Aku mencoba mengintip-intip jam dinding yang berada di dalam rumah dekat gang itu, namun tidak kutemukan.
Ini bukan masalah kesetiakawanan, akan tetapi ini masalah keberanian. Sering aku mendengar cerita-cerita aneh tentang gang ini. Ada orang yang pernah kalap (nyasar ke alam lain) ketika berjalan di gang ini sendirian. Ada juga yang menceritakan kalau gang ini banyak makhluk dedemitnya semisal pocong, kuntilanak, gendruwo dan sebagainya. Entah cerita tersebut benar adanya atau tidak. Dulu sebelum aku mendengar cerita itu aku merasa biasa aja lewat jalan ini dan juga tidak terjadi apa-apa. Akan tetapi kini rasa takut selalu menyelimutiku ketika melangkahkan kaki di gang.
Tubuhku mulai merinding mengingat cerita orang-orang. akan tetapi aku harus tetap lanjut. Kalau aku terlambat, aku akan dihukum, dan aku pasti malu dilihat teman-temanku terutama teman cewek. sebelum melangkahkan kaki ke gang, aku membangun keyakinan bahwa tidak akan terjadi apa-apa, sebagaimana dulu aku sering berjalan di gang ini sendiri.
Bismillahirrahmanirrahim”. Aku mulai melangkah lebih cepat. Aku tidak melihat kanan kiri. Keindahan alam kulupakan, Kicauan burung ku abaikandan, dan bajing-bajing yang melompat tidak kuperhatikan. aku hanya melihat ujung gang. Aku ingin cepat sampai di sana. Tiba-tiba :
 “Mau sekolah le..??”
“Deg”,, Ku hentikan langkahku. entah mengapa, rasanya aku ingin lari, tapi  aku juga penasaran. Ku cari dari mana sumber suara itu. Ketika tadi belok ke gang, jelas tidak ada seorangpun yang sedang berjalan kecuali aku sendiri. Jantungku semakin berdetak kencang. Keringat dingin keluar. Sementara itu mataku masih menelusur menerobos sela-sela pagar tanaman mencari-cari sumber suara yang terdengar tua.
“Uhhuk…uhhuk..”
“debb-debb, debb-debb..” jantungku berdetak lebih kencang lagi seolah mengajak lari dari tempatku berdiri. Namun aku masih kuat. Rasa penasaranku makin bertambah. Telingaku menangkap sumber suara berada di balik pohon randu yang besar. Ternyata benar.  sosok tua, bersahaja, membungkuk dengan tongkat di tangan, memandangku di samping pohon itu.
“hmmm.. kenapa bingung le..” terlihat wajah kakek tua tersenyum dengan kumis putihnya melebar ke kanan dan ke kiri. Ku perhatikan juga kakinya ternyata ngambah. Menurut film kalau ngambah berarti bukan hantu.
“Huffsss..” aku mengeluarkan nafas berusaha menenangkan jantungku. “ternyata kakek...!”
Ternyata suara yang membuat aku gemetaran adalah suara kakek Seno. Ia merupakan satu-satunya orang yang memiliki rumah di tengah gang ini. Ia sendirian, tapi anehnya ia tidak pernah takut tinggal di gang yang sering disebut angker ini.
“maaf kalau tadi membuat kaget..” jawab kakek sambil berjalan menuju tempatku berdiri.
 “Perasaan, tadi tidak ada orang di sini dan kakek juga tidak ada di samping pohon itu..?”
“hmm tadi, pas kakek memanggil kamu yang pertama, kakek berada di sebelah selatan pohon itu. nah,, pas kamu tolah-toleh, kakek ada di balik pohon itu. hmm..” kakek itu tersenyum seolah meledekku.
“ou.. jadi kakek sengaja ngerjain aku biar takut nih..!!” jawabku dengan memandang kakek itu tajam.
“tidak, bukan maksudku ngerjain kamu.. buat apa coba..” ia balik memandangku serius.
“terus kakek kenapa setelah memanggil sembunyi di balik pohon ??” aku bicara sambil memanyunkan bibir. Kesal.
“Hmm.. jangan cemberut gitu dong,,” kakek berusaha memegang pundakku. “tadi kakek kebelet buang air kecil, dari pada kakek nunggu kamu tolah-toleh terus ngompol, gimana hayo !!”
“hehehe..” aku tertawa tertahan sambil menutupi gigiku. “kakek buang air kok di situ tidak di kamar mandi ?” tanyaku sedikit meledek.
“disini tidak ada kamar mandi. Wong buat nunggu kamu tolah-toleh aja tidak kuat apa lagi, pergi ke kamar mandi” kakek, mamandangku dengan penuh senyuman. “aku itu sudah tua le,, tidak seperti kamu yang masih bisa menunda-nunda buang  air”
“hm.. iya kek..” aku mengangguk sambil menahan tawa menjaga sopan. Rasa takutku tiba-tiba hilang ditelan tawa karena kelucuan kakek.
“Berangkat  sekolah ya ?”. kakek mengulangi pertanyaannya sambil menuntunku melanjutkan perjalanan.
“iya kek.” Aku juga berjalan disamping kakek tua itu. “kakek kok ada di sini ? Setahuku kakek  biasanya berada dirumah pak Muji anak kakek itu.”
“Iya.. kemarin-kemarin kakek lagi sakit, daripada tidak ada yang urus, Muji mengajakku tinggal dirumahnya. Tapi sekarang kakek sudah sehat lagi jadi kakek kembali kerumah”.
“kenapa kakek tidak tinggal terus sama pak Muji aja ??” perjalanan kami terhenti didepan rumah tua. Rumah milik kakek. Sebenarnya aku ingin bertanya kepada kakek tentang kebenaran cerita orang-orang tentang gang ini akan tetapi belum ada kesempatan yang pas.
“hm.. menurut kakek enak tinggal dirumah sendiri, Meskipun tidak ada yang menemani. Rumah ini penuh sejarah le,, penuh kenangan. Rumah ini dulu dibangun dengan jerih payah sendiri. Maka dari itu, meskipun sudah reyot kakek tetep krasan di rumah ini.”
“o,, gitu to kek.” Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Jadi kalau hasil jerih payah sendiri itu, selalu terkenang ya..?”
“bukan hanya terkenang le.. tapi ada rasa bangga juga.”. Kakek memegang pundakku lagi sambil memandang serius. “kalau di sekolah, kamu seharusnya juga begitu le.”
Sejenak  ku kerutkan dahi brusaha memahami kata-kata kakek, “di sekolah, maksunya apa kek,,??”
“maksudnya, kalau disekolah ada tugas apapun, kamu harus mengerjakan sendiri. nialai jelek yang kamu dapatkan dari kerjaan sendiri itu lebih mmbanggakan daripada nilai bagus tapi hasil krjaan orang lain.” Kakek menepuk-nepuk punggungku.
Sejenak aku menundukkan kepala. Mendengar nasihat kakek, aku merasa malu. Setiap hari aku selalu mencontek kerjaan temanku. Nilai ulanganku selalu baik, tidak pernah kurang  dari 80. Akan tetapi, aku tidak pernah merasa bangga. aku hanya memerasakan kesenangan sesaat ketika melihat nilai contekanku yang bagus.
Aku kagum dengan kakek itu. ia tetap betah tinggal di rumah yang sudah reyot. Rumah yang mnurutku tidak patut lagi ditempati. Rumah yang bebrapa gentingnya melorot, dindingnya gedhek  banyak yang bolong,  halamannya penuh dngan daun-daun berjatuhan, kalau malam tanpa listrik, trlihat gelap, suram. Orang-orang mengatakan rumah itu angker dan sebagainya. Namun, rumah itu penuh kenangan bagi kakek. Dalam kenangan itu ada sesuatu yang dibanggakan. Ada sesuatu yang membahagiakan.
Kakek itu telah berjalan menuju pintu rumahnya. Aku melanjutkan perjalananku yang masih sparo lagi sampai. Aku tidak lagi ketakutan. Hanya saja entah mngapa kata-kata terakhir kakek selalu terdengar di telingaku. Tatapan mata kakek yang penuh semangat selalu terlihat dalam bayanganku. Tepukan tangan kakek di punggungku masih saja terasa getarannya sampai jiwaku. Aku kembali memikirkan apa yang telah ku kerjakan selama ini. Setiap hari aku berjelan menuju sekolah, pamit dengan orang tua, dikasih uang saku, akan tetapi di sekolah aku tidak pernah serius belajar. Aku selalu mengabaikan penjelasan guru, dan ketika ulangan aku mencontek jawaban teman. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin bahagia seperti kakek. Aku ingin merasakan kebahagiaan atas jerih payahku sendiri bukan hasil contekan orang lain. Aku ingin kebanggaan dari usaha yang aku laukan.
Sejenak aku berhenti mlangkah. Aku menengok kearah rumah kakek. Dengan sepenuh jiwa aku menggumam, “kek,, mulai sekarang aku brjanji, aku akan selalu mengerjakan tugas-tugas sekolahku sndiri.” Aku ingin mempunyai kenangan. Aku ingin mempunyai sesuatu yang bisa ku banggakan. Aku ingin merasa bahagia seperti yang kakek rasakan.

To be continued… (Guruku yang Cantik)

*****



Oleh: Hay_Hasan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar